Skip to content

KUMPULAN PUISI

February 28, 2009
tags:

Dia–
Wajah lusuhnya tegar menantang dunia. Caci maki yang kadang datang tak membuatnya gertar. Ku lihat dia tetap berjalan dengan alas kaki bututnya. Gitar tua nya slalu menemani kemana dia pergi. Suaranya yang tak terlalu merdu itulah yang selama ini menghidupinya. Aku termenung, anak seusia dia sudah harus merasakan kejamnya ibu kota. Segera ku bercermin, ku lihat diriku belasan tahun lalu dari cermin itu. Nasibku tak semalang dia. Orang2 yang menyayangiku slalu ada untukku, bahkan hingga sekarang. Aku malu..aku tak setegar dia. Tak lama diapun pergi dengan langkah mantap. Dari jendela bus, aku terus menatapnya. Aku harus mewarisi semangat hidupnya.

EMBUN di PAGI ITU.
Mataku belum juga terpejam. Alam pikiranku seakan tak mau berhenti menyusuri lembaran-lembaran kenangan. Ku lihat dia tersenyum di pagi itu, di samping embun2 yang tak berhenti menetes dari dedaunan. Embun2 itu seakan tak rela melewatkan senyum bidadariku, yang dengan penuh cinta menatap hamparan hijau di hadapannya. Aku hanya diam terpaku, menikmati paras ayu bidadariku di pagi itu, sama seperti embun-embun.

PERANG BELUM USAI.
hari ini masih pagi..dinginnya masih terasa mendamaikan hati. Nyayian merdu ayam jantan terdengar sayup-sayup dikejauhan. Bau embun menghiasi cerahnya hari. Seharusnya pagi ini adalah pagi yang damai, pagi yang tenang. Tapi entah mengapa ada kekosongan dalam jiwa ini. Aku bergetar, hampa kurasakan. Walau hati mencoba berkelakar, tapi tetap saja gundah menjalar. Aku tahu, perang belum usai dalam diriku.

LELAH
Aku lelah, bukan hanya tubuhku tapi juga hatiku.
Aku lelah, menantimu tersenyum padaku. Aku lelah..sampai kapan harus seperti ini?

SENYUM
Aku hidup di masa lalu, saat engkau masih tersenyum padaku. Senyummu sore itu teramat indah untuk bisa dilupakan. Entah kapan aku sanggup melupakannya.
Atau senyummu memang abadi dalam hatiku ini?

KOPI DI SORE ITU
Hari itu menjelang sore. Udara dingin mulai menghampiri. Ku lihat engkau berjalan ke arahku, membawa 2 gelas kopi. Ku pandangi wajahmu sekilas..betapa damai simfoni hati berdendang.
Aku slalu merindukan saat-saat itu. Mungkinkah terulang lagi? Atau akankah tetap seperti sore ini? Kunikmati secangkir kopi tanpa dirimu menemani..

7 Comments leave one →
  1. February 28, 2009 12:28 pm

    GITAR TUAKU
    Kujelajahi dia dengan jari-jariku. Dawai-dawai berkaratnya masih mampu bersenandung merdu. Ku pejamkan mata sekilas, mencoba resapi kisah-kisahmu. Aku tergetar, mataku terasa panas, dadaku terasa sesak. Esok paginya, ku terbangun, masih dengan pena di tangan. Ku pungut selembar kertas tak jauh dari gitar tuaku..sebuah lagu tercipta untukmu

  2. February 28, 2009 12:34 pm

    PUTRI
    Tanpa kau sadari, kau telah merajai hatiku. Tanpa kau tahu, kau telah mengusik mimpi-mimpiku. Tanpa kau mengerti, kau telah jadi semangat hidupku. Tapi benarkah kau tak sadari? Benarkah kau tak pernah tahu? Ataukah kau tahu tanpa berniat bicara walau sepatah kata?

    PUTRI 2
    Hari ini langit tak begitu bersahabat, tak lama air pun tumpah..membasahi bumi yang telah lama kering. Kupejamkan mataku sejenak, aku melihatmu tersenyum padaku.

    PUTRI 3
    Aku bodoh, angkuh, sombong, dan pembohong… terhadap hatiku sendiri

    PUTRI 4
    Hari ini cerah, secerah senyummu. Hari ini indah, seindah senandungmu. Entah esok seperti apa…

    PUTRI 5
    Sudahkah kau bangun hari ini? Aku merindukanmu, pagi ini.

    PUTRI 6
    Ku memandangmu dari sini. Senyummu mengembang begitu indah. Hari ini adalah harimu. Tak lama kaupun berlalu. Ku masih memandangmu…dari kejauhan

    PUTRI 7
    Ku masih termenung…diantara redupnya jiwa. Ku telusuri jejak-jejakmu di seluruh kalbuku. Ku berbicara denganmu dalam hatiku. Akhirnya kurelakan dirimu pergi dari hatiku. Kau bebas kemanapun kau mau. Semoga waktu dapat menghapus langkah-langkahmu dalam hatiku.

    PUTRI 8
    Ku mencoba tersenyum padamu. Ku mencoba selalu tegar di hadapanmu. Entah apa kau tahu hebatnya badai di hatiku..

    PUTRI 9
    Aku memandangmu malam itu. Senyummu masih saja seindah dulu. Sungguh aku tak ingin waktu cepat berlalu. Ku masih ingin melewatkan malam bersamamu.

    PUTRI 10
    Tahukah kamu, begitu banyak lagu telah tercipta karenamu?

    PUTRI 11
    Kau adalah endapan luka di hatiku. Senyummu kini bagai racun bagiku. Ku sadari kau semakin jauh. Tapi entah mengapa jiwaku enggan melupakanmu. Sampai kapan harus seperti ini?

  3. February 28, 2009 12:43 pm

    PUTRI 12
    Aku melangkah menyusuri jalan hidupku..tak tahu kapan
    harus berhenti. Aku berharap kau ada di sampingku menemani langkahku. Aku ingin kau memberiku senyuman saat aku mulai lelah. Aku ingin kau menggenggam erat tanganku saat menyusuri jalan yang terjal. Tapi semua begitu absurd, sampai kini aku masih berjalan sendiri…dirimu tak kunjung ada di sampingku. Mungkinkah aku sanggup berjalan sambil menunggumu tanpa waktu? Akankah aku slalu berjalan berteman kesendirian ini? Salahkah jika kumenafikan bidadari lain yang bersedia menemaniku?? Entahlah, aku tak tahu..yang aku tahu, hanya dirimu yang slalu kuimpikan untuk menepis sepi ini. Sepi dalam langkah-langkahku

  4. March 1, 2009 2:07 am

    PADA SUATU MALAM SAAT HUJAN TURUN
    Malam mulai menjelang, namun tiada berbintang. Ku lihat di kejauhan tetes-tetes air langit mulai jatuh perlahan.Tak lama kau datang, dengan sedikit senyuman. Segera kuberikan sesuatu yang tlah lama kusiapkan. Kau terima itu dengan senyum cerahmu. Candaan kawan-kawan tak mengurangi ketakjuban hatiku. Tak lama berselang aku memacu sang dua roda, membelah gelapnya malam. Di sepanjang jalan tak banyak kata yang meluncur dari dirimu. Hanya deru mesin yang menghiasi perjalanan kita.
    Ku lihat langit malam..sungguh tak nampak bersahabat. Tanpa disadari air langit mulai tumpah..membasahi jalan2 yang kehausan. Aku berhenti sejenak. Ku pandangi paras ayu di hadapanku. Tak rela rasanya menyaksikan engkau diterpa hujan. Kita bertatapan sekilas. Tak lama deru mesin kembali menyalak..menantang gelapnya malam dan derasnya hujan. Dalam dingin dan gemetar tubuh ini, aku berdoa..semoga bidadariku baik-baik saja. Walau tak ada pelukan erat, tapi perjalanan ini sungguh berkesan. Perjalanan di gelap malam
    saat hujan turun.

  5. March 14, 2009 3:30 pm

    Hari ini tak akan pernah aku lupakan. Hari di mana semua isi hatiku tercurahkan, tanpa sisa, tanpa rahasia, tanpa dusta. Walau sesal tak pernah berarti, namun aku tetap bangga bisa menikmati anugrah Tuhan yang bernama cinta ini.

  6. March 14, 2009 3:39 pm

    Hari ini aku terbangun dari lelap tidurku. Masih tak percaya semalam aku mampu ungkapkan rasa itu. Rasa yang hampir kubunuh dan kukubur di hati yang terdalam. Rasa yang selama ini selalu menjadi musuh dalam peperangan hati. Dan rasa yang membuatku begitu lelah, hingga tak mampu lagi bertahan. Akhirnya kubiarkan saja kali ini hati bicara. Ternyata memang sesal tak pernah punya makna.
    Kini aku akan berjuang lebih keras untuk memadamkan api cinta yang terlanjur membakar hati dan jiwaku ini. Doakanlah agar aku berhasil

  7. July 31, 2009 8:47 am

    Hari ini setahun yang lalu..mungkin aku telah bersiap menyambut malam, tak sabar menunggu menyaksikan seulas senyummu..mungkin akupun sedang menerka-nerka tentang apa yang akan engkau bicarakan denganku. Hari ini, setelah sekian lama berlalu..aku masih saja seperti dulu, masih memikirkanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: