Skip to content

Aku dan tegar

September 12, 2009

Hai, namaku Ikhlas Prihatin. Orang tuaku memberiku nama demikian karena saat aku dilahirkan keadaan kami memang sedang susah. Ayahku yang buruh pabrik saos kena phk karena perusahaan kolaps. Hanya dari penghasilan ibuku sebagai buruh cucilah kami dapat menyambung hidup. Dengan memberi nama tersebut, orang tuaku berharap aku selalu ikhlas dengan segala keprihatinan yang terjadi pada kami. Masa kecilku memang benar2 menyedihkan. Ayahku yang waktu itu bekerja serabutan tak mampu menyekolahkan aku lebih tinggi lagi. Saat anak-anak seusiaku riang gembira berangkat ke sekolah dengan seragam biru putih kebanggaannya, aku harus puas hanya sempat memakai seragam merah putih…warna yang sama dengan bendera kebangsaan kita. Memang bukan hanya aku yang bernasib seperti ini. Ada banyak anak sepertiku di desa miskin ini. Aku menyebut diriku beserta anak-anak sepertiku ini laskar merah putih. Memang sepertinya nama itu sangat gagah, bercitra nasionalisme, tapi sekaligus menyedihkan dan dekat dengan kebodohan. Bagaimana mungkin kami yang lulusan SD ini mampu bersaing dengan mereka yang SMK, SMA, dan bahkan Sarjana. Saat otak-otak para sarjana memikirkan dengan sistematis langkah-langkah hidupnya, otak kami hanya mampu memikirkan bagaimana cara bertahan hidup hari ini, yang lain tidak. Eh iya, aku juga punya sahabat. Setiap hari aku menggunakannya untuk membabat rumput dan gulma di kebun milik para juragan di desaku. Sahabatku ini kuberi nama tegar. Dia sangat tajam karena sering aku asah. Aku sangat menyayangi sahabatku ini. Entah apa yang terjadi jika tegar tidak di sisiku.
Hari ini, tepat di ulang tahunku yang ke 17, ayahku dipanggil Yang Kuasa. Ayah dipanggil saat sedang bekerja serabutan sebagai tukang batu di tebing desa sebelah. Tebing batu yang selalu dieksplorasi itu longsor, menimpa beliau dan beberapa rekannya Mungkin tebing itu sudah tak kuat lagi disandari oleh begitu banyaknya orang miskin seperti kami. Ibu dan ketiga adikku menangis sejadi-jadinya. Hanya aku yang kelihatan tegar, padahal hatiku juga menangis. Aku tak mau kelihatan cengeng dan menghianati nama pemberian ayahku. Aku sempat melihat senyum di bibir kaku ayahku, seakan berpesan kepadaku untuk meneruskan perjuangannya demi keluarga. Ya, dengan berpulangnya ayahku otomatis beban keluarga ada di pundakku. Semoga otak bodohku sanggup memberikan jalan keluar masalahku ini. Sebab jika hanya mengandalkan tegar sahabatku ini sungguh sulit untuk menghidupi kami sekeluarga, ditambah lagi sekarang ibuku sakit-sakitan. Belum genap 40 hari sejak kematian ayahku, aku bertekad pergi ke kota untuk mengadu nasib. Dengan berat hati, aku meninggalkan ibu dan adik-adiku di kampung. Aku berangkat dengan uang hasil tabunganku, ditambah pinjam tetangga. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku harus berhasil. Tak lupa pula aku membawa tegar, karena aku tak pernah berpisah dengannya selama ini.
Aku tiba di kota. Sungguh asing sekali suasana di sini. Tak ada rumput yang harus dibabat, tak ada kerbau yang harus dimandikan, tak ada anak-anak bermain gobak sodor. Orang-orang di sini seakan dikejar waktu, berlari begitu cepat mengejar masa depan yang belum bernama. Orang-orang yang tak sanggup berlari secepat itu, harus rela tersingkir dari persaingan. Orang-orang berdasi itu sepertinya juga tidak melihat manusia-manusia seperti aku. Hanya sedikit yang peduli pada kaum marjinal seperti aku, selebihnya merasa jijik pada kebodohan dan kedekilan pakaian kami. Hidup di kota ternyata sungguh berat. Sudah hampir sebulan aku di sini dan belum juga mendapat kerja. Uang simpananku sudah semakin menipis, ditambah lagi harus membayar uang sewa kamar busuk ini. Sebab, jika tak dibayar aku harus rela diusir oleh pemiliknya dan kemungkinan akan hidup menggelandang. Tak ada gunanya lagi UUD 45 pasal 34 ayat 1 yang menyatakan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Sekarang kegunaan fakir miskin hanyalah sebagai ajang mencari simpati publik saat pemilu maupun saat-saat pemilihan kepala daerah. Orang-orang tengik itu tak benar-benar memperhatikan rakyat miskin. Saat tujuan mereka tercapai, orang-orang seperti kami akan segera dilupakan. Otak bodohku yang semakin bodoh karena kekurangan nutrisi semakin pusing memikirkan beban hidupku. Sial, saat orang-orang marjinal seperti aku ini setengah hidup setengah mati, para penipu berjas semakin gencar saja melakukan aksinya merampok uang negara. Ya, korupsi memang sudah menjadi tradisi di negara bobrok ini. Andai saja mereka tidak korupsi, mungkin saja negara punya uang untuk membangun desa-desa miskin seperti desaku, menciptakan lapangan kerja disana dan aku tak perlu berada di tempat busuk ini bersama para kecoak yang memuakkan. Yang membuat lebih geram lagi, tak jarang mereka menggunakan tameng agama demi kepentingannya semata. Di forum-forum meneriakkan takbir tapi di saat yang lain menerima suap, mark up proyek, dan membuat proposal pengadaan fasilitas fiktif. Bodohnya lagi lembaga pemberantas korupsi di negara ini akan dibubarkan dengan alasan tidak efisien. Ya ampun, mau jadi apa negara ini jika diatur oleh segelintir orang yang sarat dengan kepentingan pribadi? Demokrasi macam apa yang terbentuk? Tak lebih hanya oligarki yang membuat si miskin tambah miskin dan si kaya tambah kaya. Jangan mimpi bisa menjadi macan asia jika sistem macam ini masih bercokol di negara. Tak lama, akupun tertidur di tengah lamunan beratku itu.
Hari ini aku sangat lapar, dan sialnya uangku sudah benar-benar habis. Aku berfikir keras bagaimana cara untuk mengganjal perutku ini. Aku pantang meminta-minta. Dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku berjalan tak tentu arah berharap masih ada sedikit keajaiban untukku. Di pertigaan tak jauh dari kontrakanku, ada seorang pemuda yang dikeroyok oleh 3 orang. Aku segera melesat tak menghiraukan rasa lapar, menerjang bangsat-bangsat pengecut itu. Tanpa banyak bicara ku pukuli dan ku tendangi para bajingan tengik itu. Badanku yang besar dan tegap ini memudahkan aku menghadapi mereka. Orang terakhirpun lari tunggang langgang setelah sebelumnya aku ludahi. Pemuda yang ku tolong tadi berkali-kali mengucapkan terima kasih. Aku segera membantunya berdiri. Pemuda ini keturunan cina, terlihat dari matanya yang sipit dan kulitnya yang putih bersih. Dia mengenalkan dirinya sebagai Aliang. Kemudian akupun diajak ke rumahnya. Ternyata dia anak orang kaya, rumahnya besar dan indah. Banyak pria berseragam hitam di rumah ini. Tak lama akupun dikenalkan kepada ayah Aliang. Ayah Aliang sangat gagah, berwibawa, dan terlihat pemberani dengan wajah keras bercodet. Sekilas aku menerka betapa keras hidup orang ini dulu. Dia bernama Herman liang. Pak Herman berterima kasih kepadaku karena telah menolong anaknya dari anak buah saingannya. Belakangan baru ku tahu jika Pak Herman adalah ketua genk yang cukup disegani di kota ini. Aku diterima dengan baik di sini. Bahkan aku tak perlu lagi kembali ke kamar kontrakanku yang memuakkan. Setahun sudah aku di sini. Sekarang aku aktif sebagai bagian dari genk Golok pimpinan Pak Herman. Aku sudah begitu akrab dengan dunia hitam. Berjudi, menyelundupkan narkoba, perang antar genk, menjaga lokalisasi sekaligus menikmati tubuh gadis-gadis belia adalah pekerjaan sehari-hariku. Tak jarang kami juga ditugaskan untuk menjaga keselamatan bos-bos besar dari incaran musuh-musuhnya. Aku sudah lupa dengan Tuhan, tak pernah lagi aku menyebut namanya dalam hidupku ini, tak pernah lagi bersujud menyembahnya. Ternyata memang benar jika kemiskinan selalu dekat dengan kekufuran.
Di sebuah kampung, terlihat seorang ibu dan 2 anaknya bercengkrama. Rumah mereka kini tak lagi bobrok. Penampilan mereka juga tak lagi dekil. Mereka tertawa lepas menikmati siaran televisi yang dulu sama sekali tidak mereka kenal. Mereka adalah ibu dan adik-adiku. Uang yang selalu aku kirimkan tiap bulan agaknya mampu merubah kehidupan mereka. Kini adik-adiku bisa bersekolah, ibuku membuka warung kelontong di depan rumah. Keluargaku di kampung tak lagi dipandang sebelah mata. Orang-orang kampung megelu-elukan aku sebagai pemuda sukses yang mampu membalikan nasib. Banyak pemuda-pemuda kampung yang terinspirasi olehku dan merantau ke kota, berharap bisa sukses seperti aku. Entah apa yang akan terjadi seandainya mereka tahu siapa sebenarnya diriku ini. Aku mengaku bekerja sebagai mekanik di bengkel ternama kepada keluargaku. Untungnya mereka tak pernah banyak tanya dan percaya saja. Yang penting bagi mereka adalah anaknya sukses dan mampu mengangkat derajat keluarga.
”Hei bangsat!!!! Jangan lari kau!!!! Teriak para cecunguk di belakangku. Aku terus berlari seperti orang kesetanan. Aku tak boleh mati. Bagaimana nasib keluargaku di kampung jika aku meninggalkan mereka? Hari ini aku sungguh sial, bertemu dengan musuh-musuhku saat aku sendirian. Jika saja jumlah kami seimbang, tentu saja aku tak akan merendahkan diri dengan berlari seperti ini. Pelacur yang sakit hati padaku bersekongkol dengan musuhku supaya aku binasa. Pelacur laknat itu mengundangku ke tempatnya, dengan syarat aku berangkat sendirian. Katanya ada persoalan penting yang harus dibicarakan. Aku yang tak curiga sedikitpun meluluskan saja permintaannya. Barangkali dia mau membicarakan tentang penolakan cinta yang kulakukan terhadapnya tempo hari. Bah, biarpun aku jahanam, tapi dalam memilih pasangan aku masih memiliki idealisme. Aku berharap suatu saat tak lagi seperti ini dan bisa memperistri seorang wanita baik-baik, bukan pelacur seperti dia. Bruk..ah, sial..aku tersandung..terguling-guling. Tak lama mereka datang sambil berteriak ” bangsat, mampus saja kau!!” Akh..sabetan parang mengoyak dadaku. Aku mengaduh kesakitan. Darah mengalir deras tak terbendung. Kali ini tegar tak bisa berbuat apa-apa. Dia tak bersamaku. Sahabat yang telah kugunakan untuk menebas puluhan cecunguk seperti mereka ini lupa tidak aku bawa. Tadi sore setelah kumandikan karena banyak noda darah setelah beraksi di siang harinya, tegar ku geletakan begitu saja di atas meja kamarku. Pandanganku semakin gelap. Lagi-lagi sabetan parang menyabet tubuhku. Kali ini mengenai bagian perutku. Aku sekarat, menunggu jemputan malaikat maut. Tak lama, aku melihat tubuhku sendiri tergeletak di pinggir jalanan yang gelap, bersimbah darah. Cecunguk-cecunguk itu telah pergi meninggalkan aku. Tak ada satupun yang berani menghampiri. Mereka menganggap aku ini bangkai yang tak perlu diperhatikan. Aku sangat sedih. Bagaimana nasib ibu dan 2 adiku di kampung? Bagaimana kelanjutan sekolah adik-adiku? Semoga warung kelontong kecil yang dimiliki ibuku bisa mencukupi semua kebutuhan mereka. Kali ini aku mati, benar-benar mati. Negara sedikit bernafas lega telah kehilangan salah satu penghambat pembangunan. Aku berharap para bajingan kelas kakap yang biasa mencuri uang negara mati juga seperti aku. Dengan begitu untuk ke depannya tak ada lagi orang-orang seperti aku yang mati akibat kesalahan sistemik negara bobrok ini. Aku juga berharap tak ada lagi maling ayam, copet, dan sebangsanya yang mati sia-sia terkubur impian yang sebenarnya bagi sebagian orang mudah saja untuk mewujudkannya. Tak lama kemudian, munculah bayangan hitam tinggi besar. Ah, celaka…..sebentar lagi aku akan menghadapi hukuman karena melupakan Tuhan. Tak ada gunanya lagi menyumpah serapahi negara yang membuat aku seperti ini.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: