Skip to content

BALADA BUMI

October 19, 2009

By: rock1825

Hai namaku bumi. Aku sedang sangat sedih sekarang. Aku diperintahkan oleh Tuhan untuk sedikit menari, memberi pelajaran pada manusia. Jika saja yang menyuruhku bukan Tuhan, tentu akan kuabaikan perintah ini. Tapi ini adalah titah Tuhan, penguasa semesta alam. Aku, si bola biru yang kecil tak punya kuasa apa2 untuk mengabaikan perintah-Nya. Tanpa banyak komentar aku langsung mengiyakan titah-Nya. Aku sampai lupa menanyakan alasan mengapa harus diambil langkah ini. Menurut analisisku, Tuhan mulai bosan dengan tingkah laku manusia yang semakin tak manusiawi. Banyak manusia sekarang gemar saling tikam, saling caci, saling merendahkan, saling bunuh, dan tak jarang merampas sesuatu yang bukan miliknya. Daftar itu belum ditambah dengan perzinahan yang saat ini semakin marak dilakukan kaum remaja dan perusakan alam dengan dalih ekonomi. Jika dirunut-runut tentulah memory hp yang hanya 1 gb tak akan sanggup menampungnya. Ya sudahlah, memikirkan hal ini malah membuat aku semakin pusing tak bertenaga. Lebih baik tenagaku kusimpan untuk nanti sore.

Aku semakin cemas. Kurang dari 1 jam lagi aku akan beraksi. Aku sangat sedih memikirkan dampak yang akan terjadi nanti. Masih teringat jelas bagaimana menyayatnya rintihan gadis kecil yang tertimpa reruntuhan di gempa sebelumnya kurang dari sebulan yang lalu. Aku juga masih ingat betapa menyedihkannya tangis seorang bapak yang kehilangan anak semata wayangnya. Anak laki2 itu bernama Amin. Amin adalah mahasiswa cerdas harapan keluarganya. Paiman, sang ayah bekerja mati2an untuk menguliahkan Amin. Ternyata takdir berkata lain. Amin tak pernah merasakan jadi seorang dokter. Tak terasa air mataku mulai meleleh. Tak kuat rasanya menanggung himpitan rasa ini.
“Gempa…..ada gempa…ayo lari. Astagfirullah…bu, ayo cepat lari. Nak, dimana kamu nak?” kudengar berbagai macam teriakan. Dengan berlinang air mata aku terus saja menari. Di sebelah barat lebih mengenaskan lagi. Aku harus menimbun 3 desa yang saat itu sedang berlangsung hajatan pernikahan. Tak terperi rasanya menyaksikan jeritan calon pengantin wanita yang tertimbun longsor. Belum lagi para tamu undangan yang tak sempat menyelamatkan diri harus rela terkubur hidup2. Aku semakin sedih menyaksikan anak2 sd yang tertimbun rerutuhan bangunan kebanggaannya. Sekolah yang diharapkan menjadi batu loncatan menuju kesuksesan ternyata malah menjadi tempat meregang nyawa.

Akhirnya aku menghentikan goyangan mautku ini. Goyangan mautku ini bukan sembarang goyangan seperti penyayi2 dangdut yang haus popularitas. Goyanganku benar2 maut. Yang menjadi korban kali ini ribuan orang, mulai dari anak2 sampai orang tua. Di sudut jalan kulihat seorang anak yang keningnya berdarah. Sambil meringis menahan sakit, dia terus saja memanggil-manggil ibunya. Usahanya belum membuahkan hasil. Ibunya entah ada di mana. Mungkin saja orang yang dicari-cari itu sudah mati mengenaskan di bawah reruntuhan bangunan. Di blok sebelah kulihat seorang ayah yang panik sedang menggendong putri kecilnya. Alisa, gadis kecil itu benar2 malang. Nyawanya sudah di ujung tanduk. Balok besar menimpa tubuh mungilnya. Jika tidak segera mendapatkan pertolongan, dia bisa tinggal nama. Air mataku semakin mengalir deras. Aku sangat sedih.

Tiga minggu telah berlalu sejak peristiwa pahit itu. Matahari seperti biasa selalu
menyapaku di pagi yang cerah. Aku sangat kagum padanya. Sinarnya mampu berlari 300 ribu km/s sehingga jaraknya yang jauh dariku hanya ditempuh dalam waktu beberapa menit saja. Kemarin aku sempat bercakap-cakap dengan matahari. Aku protes karena sinarnya semakin panas saja. Hal ini membuat sawah2 dan ladang2 petani kering kerontang. Aku sangat sedih melihat keluarga petani di desa ABC harus makan nasi aking karena sawah mereka gagal panen. “Hai bumi…ini bukan salahku. Setiap hari aku selalu menyinari engkau dengan intensitas cahaya seperti ini. Bahkan intensitas cahaya yang aku pancarkan melemah secara perlahan karena keterbatasan bahan pemicu reaksi fusi. Engkau harusnya bersyukur karena masih aku beri cahaya. Suatu saat bisa saja aku berhenti bersinar dan tamatlah dirimu. Yang salah sebenarnya adalah manusia. Mereka membuat lapisan ozon yang melindungimu dari radiasi semakin menipis. Dengan semakin tipisnya lapisan pelindungmu, maka semakin besarlah radiasi yang engkau dapat.” sungut matahari. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya. Sepertinya dia benar. Ehm, lagi2 manusia. Mereka semakin lama semakin tidak mempedulikan aku. Demi keuntugan materi, mereka tak segan2 membakar hutan ataupun membabatnya sampai habis. Belum lagi usaha pertambangan yang tidak disertai dengan usaha reboisasi. Lautan pun tak luput dari ulah nakal mereka. Terumbu karang yang indah saat ini semakin habis dikuras otak2 kapitalis. Selama ini aku bersabar dengan ulah manusia, entah sampai kapan aku mampu melakukannya.

Belum hilang sedihku, hari ini aku harus menerima kenyataan pahit. Di desa PNRG aku melihat banyak manusia terbelakang mental. Setelah kuselidiki, ternyata ini adalah daerah miskin dimana penduduknya jarang makan nasi. Hal ini membuat sebagian besar dari mereka kekurangan gizi dan akhirnya menderita gangguan mental. Yang semakin menyedihkan adalah angka statistik yang menyatakan 50% penduduk menderita gangguan mental. Aku tidak habis pikir….dimana pemerintah selama ini??? Tidakkah mereka tahu penderitaan rakyat semacam ini? Apakah mereka sudah terlena dengan propaganda yang disampaikan para pejabat2 yang mengatakan bahwa Indonesia semakin baik, kemiskinan semakin menurun?

Hai para manusia,..jika kalian mendengarkan curhatku ini, kumohon renungkanlah pesan2ku ini. Aku berharap kalian bisa berdamai satu sama lain, sayangilah diriku ini karena kehidupan kalian juga terkait erat denganku, sayangilah sesama kalian…bantulah mereka yang kesusahan. Jangan biarkan saudara-saurara kalian kelaparan sementara kalian makan di rumah makan yang mewah. Aku berharap keadaan bisa semakin membaik dan aku tak perlu lagi bergoyang maut untuk sekedar menyadarkan kalian. Salam hangat dariku, Bumi.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: